Rose, seorang anak dari suami-istri biasa itu, adalah seorang remaja wanita yang baru memasuki masa SMA nya. Saat ini ia sedang menikmati waktu santainya di kamarnya yang sedikit berantakan, tapi cukup rapih untuk ukuran 'cowok'. Banyak temannya yang bilang kalau ia bisa menjadi model, seperti yang biasa muncul di majalah-majalah. Karena memang Rose mempunyai tubuh yang cukup proposional untuk remaja seukurannya. Tapi apa daya, sifat Rose yang agak boyish membuat teman-temannya merasa mustahil juga.
Baru saja Rose tidur-tiduran sebentar di kasurnya, tiba-tiba mama datang ke kamarnya.
"Rosee, saudara-saudaramu datang tuh."
"Hmm..? Kok disaat aku lagi nyantai mereka malah datang sihh..."
"Hush! gak boleh ngomong kayak gitu. Ayo sambut mereka"
Dengan malasnya, akhirnya Rose berusaha untuk bangun dari tidur-tidurannya. Ia turun dari kamarnya di lantai 2 dan membukakan pintu untuk saudara-saudaranya itu.
"Hey Rose, lama tak bertemu!", sambut salah satu saudara termuda dan terpolosnya, Marie.
"Yohee, kangen nih, udah lama gak ketemu", sapa ugal-ugalan dari kakaknya Marie, Marrylle.
"Haha iyaa nihh, rose sombonggg", kata-kata pedas yang tak lain dari saudaranya yang seumuran dan bahkan satu sekolah dengan Rose, Alle. Alle merupakan anak yang paling centil diantara saudara-saudaranya yang lain, tidak heran kalau menemukan alat-alat kosmetik lengkap didalam tasnya. Waktu kecil, Rose tidak terlalu menyukai Alle karena Alle dianggap 'lain' oleh dirinya yang tomboy. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Rose mulai bisa menerima dan memahami sifat Alle yang sepertinya sudah pakem itu.
"Apaan sih, kalian lebay banget. Orang aku di rumah mulu juga", jawab Rose sedikit merasa terganggu. Tapi sejujurnya, kedatangan ketiga saudaranya itu merupakan kebahagiaannya tersendiri, karena berarti ia tidak akan kesepian di rumahnya yang sangat sepi meski dihadang badai sekalipun.
Seperti biasa, Rose mengajak ketiga saudaranya tersebut ke kamarnya, baik untuk main-main, tidur-tiduran lagi, atau mungkin mereka akan menemukan hal baru yang bisa mereka mainkan bersama.
"Rose, bagaimana kalau kita main game mu yang kamu bilang baru kamu beli itu?", tanya Marrylle.
"Oiya, boleh juga. Aku juga belum nyoba main soalnya. yuk!"
Rose langsung menyalakan Playstationnya, dan mengambil game barunya 'The Tragedy of The Godessess'. Menurut pendapat para gamers lainnya, game itu termasuk dalam salah satu game RPG terbaik.
"Yaampun Rosee, masa kamu mau ngajak gue main game juga? Gue gak sukaa", Kata Alle kecewa.
"Yaudah, lu baca-baca majalah gue aja di lemari. Banyak yang baru tuh. Soalnya gue juga penasaran sama game ini nih, belom gue mainin. Sebentar yaa.."
Alle tidak menjawab lagi, dia tahu persis Rose tidak akan mau membatalkan ritual bermain gamenya. Jadi Alle langsung mengambil majalah di lemari Rose sesuai instruksi dan membacanya di kasur sambil tiduran.
***
Sejam berlalu sejak Rose, Marrylle, dan Marie bermain game. Alle mulai bosan karena itu berarti sudah sejam Alle dicuekin oleh yang lainnya. Sejam. Bukan waktu yang singkat bagi Alle yang mudah bosan. Dan semuanya karena...game.
"Hey, kalian mau main game terus?! Terus aku gimana? Bosen nih! Kalau kalian main game terus kan monoton, gak ada hal baru. Ayolahhh""Tunggu sebentar Alle, ini lagi seru nih! Magnolia-nya lagi ngelawan boss nih!", jawab Rose spontan.
"Magnolia, Magnolia...siapa sih itu? Cuma karakter game doang aja...", Alle mulai mendengus kesal.
Tiba-tiba Marrylle dan Marie sontak teriak saking menjiwai game yang mereka mainkan.
"Rose, Rose! Itu Magnolianya mau mati, Rose! Musuhnya juga udah mau nyerang dia tuh! ROSE!"
PRAANGG
TV LCD Rose pecah seperti dipukul dari dalam, seolah-olah Boss dalam game yang Rose cs mainkan benar-benar memukul TV milik Rose. Semua orang di kamar Rose langsung terlempar, mendapat tekanan dari TV Rose yang pecah. Bersamaan dengan derasnya kepingan kaca dari TV Rose, sesosok wanita berusia sekitar 20-an tiba-tiba terlempar keluar dari game yang mereka mainkan.
Magnolia. Wanita cantik berambut merah maroon dengan porsi badan tinggi seperti orang Eropa--karakter game yang Rose cs mainkan ini tiba-tiba saja bisa berada didepan mereka. Rose cs masih shock dengan apa yang mereka alami, mereka ingin berteriak, tapi mulut mereka seperti terkunci oleh keadaan abnormal yang mereka alami ini.
Wanita bernama Magnolia itu menyarungkan sebuah pedang yang diselempangkan di punggung. Ia memakai baju yang cukup rumit untuk era sekarang, seperti baju-baju kerajaan abad 18-an. Ia memakai blouse putih yang di dobel lagi dengan armless shirt biru berbahan polyester ketat panjang, di pinggangnya terikat dua ikat pinggang yang berbeda, rok berwarna biru gelap dengan sisinya yang berwarna keemasan dan sedikit tertutup di sisi kanan dan kirinya oleh terusan dari shirt birunya yang panjang, dan ia memakai sepatu boot kulit berwarna coklat yang panjangnya mencapai 3 cm diatas dengkul.
Ia terlihat kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa dan bahkan, mungkin ia tidak tahu dimana ia berada saat ini. Sesaat berfikir, lalu ia melihat ke arah Rose cs secepat kilat dengan mata dingin bak serigala yang hendak memangsa mereka.
"Siapa..kalian?", tanyanya.
Rose cs hanya terdiam membisu.
"Aku tanya siapa kalian!!"
"Se..seharusnya kami yang bertanya siapa kamu!!" Jawab Alle spontan dengan bibir bergetar, karena ia dapat langsung merasakan, wanita berambut merah maroon didepannya ini bukanlah orang sembarangan, ia bersenjata dan yang pasti...bukan dari dunia tempat mereka tinggal.
Magnolia malah semakin menatap mereka dengan lebih teliti. Bahkan Marrylle yang biasanya slengehan pun sudah mulai gemetar ketakutan. Tiba-tiba Magnolia menyadari sesuatu:
Sekejap Magnolia langsung berlari ke arah Rose dan berusaha menarik tangannya untuk mengikutinya masuk ke TV. Ya, ke TV.... Memang tidak waras, tapi saat ini itulah yang mereka lihat. Karena panik, refleks Rose menarik tangan Marie, begitu juga dengan Marie, ia ikut memegang tangan Marrylle. Merasa tidak adil kalau salah satu saudaranya selamat, maka Marrylle pun secepat kilat memegang tangan Alle dan ikut menariknya kedalam TV."Empat anak yang berasal dari dunia lain, mungkinkah...."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar